Tak Hanya Material Dan HOK, Kelompok P3A Tunas Cikedal Diduga Bermasalah

Tak Hanya Material Dan HOK, Kelompok P3A Tunas Cikedal Diduga Bermasalah

Independenupdate.com, Pandeglang-Banten | Pekerjaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dari APBN dengan nilai anggaran sebesar Rp. 95 Juta tahun 2025, tengah dilaksanakan di wilayah Kampung Margaluyu, Desa Babakan Lor, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang-Banten saat ini tengah menjadi sorotan. Minggu, (31/08/2025).

Pasalnya, material utama berupa pasir yang digunakan dalam pembangunan peningkatan jaringan irigasi itu diduga bercampur matrial lumpur, Tak hanya soal material, upah kerja yang belum jelas juga di pertanyakan . “Pasirnya lengket jadi agak susah, ngerjain juga terasa berat karena banyak lumpurnya,” ungkap pekerja, yang enggan di sebut namanya kepada awak media saat di lokasi pekerjaan.

‎Hal yang lebih mengejutkan diakui pekerja, pasalnya, mereka mengaku bahwa tidak mengetahui secara pasti sistem pembayaran yang diterapkan dalam pekerjaan tersebut.

‎“kami sudah bekerja selama sebelas hari dan sampai saat ini, untuk ongkos harian kerja belum ada kepastian, apakah kami dibayar harian, ataukah borongan,” singkatnya.

‎Pengurus P3A Tunas Cikedal yang akrab disapa Ibro itu juga diketahui merangkap sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) di Kecamatan Cikedal bersama Iip rekannya yang merangkap sebagai Pendamping SDM PKH di wilayah yang sama. Ibro mengatakan, material tersebut sudah di konsultasikan dan di setujui oleh pendamping dan juga balai.

‎"terkait pasir, sebelumnya sudah saya konsultasikan terlebih dahulu dengan pihak pendamping dan SS dari balai, sehingga tidak ada masalah" katanya kepada wartawan via sambungan telepon WhatsApp.

‎Menurutnya, pasir itu tidak ada kandungan lumpur, karena pengerjaan tersebut semakin jauh, pasir tersebut di biarkan terlebih dahulu dan baru akan di pergunakan untuk antisipasi sebagai adukan kering karna, kata dia, sebagian Medan atau lahannya mengandung air.

‎"pasir itu baru dipergunakan separuh,  karenanya untuk antisipasi lahan yang sebagian mengandung air yang harus menggunakan adukan kering barulah pasir itu digunakan", imbuhnya.

‎"memang kenyataannya seperti itu, kalau sekiranya pasir itu jelek dan tidak  dikonsultasikan terlebih dahulu,mungkin tidak aka dipergunakan dan pastinya akan saya angkut kembali", tambanya.

‎Mengenai ongkos kerja, lebih jauh dirinya mengatakan bahwa kalau tidak ada kesepakatan, tidak mungkin akan terlaksananya pekerjaan. Dan lanjut dia, pekerja kemungkinan akan mogok kerja serta melakukan protes atau demo.

‎"terkait upah, kalau tidak ada kejelasan mungkin pekerja tidak akan melakukan pekerjaan nya, pastinya pekerja akan mogok dan kemungkinan melakukan unjuk rasa", kilahnya.

‎Disaat yang bersamaan, selain sebagai  pengelola kegiatan dari program tersebut, peran Ibrohim sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) di kecamatan setempat sempat di pertanyakan awak media. Namun, alih-alih memberikan jawaban, Ibrohim malah tidak menjawab dan menutup panggilan teleponnya sehingga terkesan menghindari pertanyaan wartawan serta terkesan bungkam.

‎Tak hanya Ibrohim yang terkesan bungkam, Iip salah satu rekan nya yang merangkap sebagai Pendamping SDM-PKH tidak menjawab saat di hubungi wartawan via telepon WhatsApp untuk konfirmasi.

‎Lebih jauh, dalam penelusuran awak media, kini muncul dugaan serius bahwa P3-TGAI yang dikelola P3A Tunas Cikedal hanyalah alat kepentingan politik dan ekonomi oknum tertentu. Informasi yang berkembang menyebut adanya praktik setoran sebesar 20–30 persen dari nilai pagu proyek kepada pihak yang disebut-sebut sebagai oknum aspirator. Praktik semacam ini jelas merugikan masyarakat karena mengurangi kualitas pembangunan yang seharusnya dirasakan langsung oleh petani, dugaan tersebut dalam penghimpunan informasi untuk pemberitaan selanjutnya pada media ini. (Wan)