RA Nurul Hikmah Kecamatan Karangtanjung Diduga Lakukan Pencatutan Data Siswa

RA Nurul Hikmah Kecamatan Karangtanjung Diduga Lakukan Pencatutan Data Siswa

Independenupdate.com, PANDEGLANG – Dunia pendidikan di Kabupaten Pandeglang diterpa isu miring terkait dugaan pencatutan data pribadi anak di bawah umur. Sebuah lembaga Raudhatul Athfal (RA) di Kecamatan Karangtanjung diduga dilaporkan ke kantor Kementerian Agama Pandeglang akibat memanfaatkan identitas anak secara sepihak demi keuntungan tertentu, serta melakukan tindakan intimidasi terhadap tenaga operator sekolah lain.

Kasus ini mencuat saat seorang siswi bernama Amanda Syakila Putri mendaftarkan diri di Kober Nurul Ilmi pada Juni 2026 atas persetujuan penuh orang tuanya. Namun, saat operator Kober Nurul Ilmi mencoba menginput data Amanda ke dalam aplikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikbudristek, sistem menolaknya secara otomatis karena data tersebut telah terkunci di tempat lain. Sistem menunjukkan data Amanda masih terdaftar aktif di pangkalan data EMIS (Education Management Information System) di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag). Identitas anak tersebut tercatat pada RA Nurul Hikmah yang beralamat di Kp. Pagadungan, Kelurahan Pagadungan, Kecamatan Karangtanjung, Pandeglang.

Ironisnya, meski siswi terkait sudah tidak lagi mengikuti kegiatan belajar di RA tersebut, namun datanya belum dimutasi atau dikeluarkan oleh lembaga lama.

Pihak Kober Nurul Ilmi kemudian berkoordinasi dengan Kemenag Pandeglang. Atas arahan Kemenag, orang tua murid didampingi operator Kober mendatangi RA Nurul Hikmah untuk meminta mutasi data secara resmi demi masa depan pendidikan anak. Namun, upaya kekeluargaan tersebut justru mendapat respons negatif dan intimidasi dari oknum pihak RA.

"Kami datang dengan niat baik secara kekeluargaan untuk meminta mutasi data demi masa depan pendidikan Amanda. Namun, saat kami tunjukkan bukti validasi sistem, oknum pihak RA malah melempar kemarahan secara reaktif. Saya diintimidasi dan dicaci maki di depan umum dengan dalih data itu tidak ada di EMIS mereka, padahal jelas-jelas sistem Kemenag mengunci data anak tersebut di lembaga mereka," ujar Herni, Operator Kober Nurul Ilmi.

Akibat data yang tertahan, Amanda sempat terancam kehilangan hak konstitusionalnya untuk mendapatkan legalitas pendidikan formal serta hak atas program bantuan pemerintah.

Ibu kandung Amanda menegaskan secara tertulis bahwa mereka tidak pernah mendaftarkan anaknya ke lembaga tersebut. Muncul dugaan kuat adanya manipulasi kuota siswa oleh pihak RA demi mencairkan bantuan operasional lembaga dari pemerintah.

"Saya tegaskan, saya tidak pernah mendaftarkan, memberikan berkas, ataupun menyetujui anak saya dimasukkan ke RA Nurul Hikmah. Kami kaget sekali saat tahu datanya terkunci di sana selama tiga tahun berturut-turut. Ini jelas pencatutan ilegal. Kami menuntut keadilan karena hak legalitas pendidikan anak saya sempat terancam hanya demi keuntungan sepihak lembaga tersebut," cetus Iin, orang tua dari Amanda Syakila Putri.

Melihat kerugian materiil dan immateriil ini, orang tua siswa bersama perwakilan Kober Nurul Ilmi melayangkan dua tuntutan utama kepada Kemenag Pandeglang dan Wilayah Banten diantaranya, pertama, mendesak Kemenag turun tangan langsung memindahkan atau menghapus data Amanda dari sistem EMIS RA Nurul Hikmah agar bisa masuk ke Dapodik Kober Nurul Ilmi. Kedua, meminta Kemenag memberikan sanksi mulai dari teguran keras hingga pembekuan izin operasional kepada Yayasan RA Nurul Hikmah atas dugaan pencatutan data tanpa izin dan perilaku tidak beretika.

Pihak keluarga menyatakan siap membawa kasus ini ke ranah hukum pidana terkait dugaan pelanggaran UU No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta Pasal 310 dan 315 KUHP tentang pencemaran nama baik jika tidak ada penyelesaian konkret.

Sementara, Plt. Kasi Pendidikan Madrasah (Penma) pada Kemenag Pandeglang, H. Mumu, saat dikonfirmasi media, Selasa (01/09/2026) menyatakan bahwa pihaknya mengedepankan asas praduga tak bersalah dan akan segera melakukan tabayun (klarifikasi) lapangan untuk mempertemukan kedua belah pihak.

"Pertama, kami berterima kasih atas informasi yang disampaikan oleh rekan-rekan media. Langkah awal yang kami tempuh adalah melakukan tabayun.(Red)