Banyak Aset Pemda Pandeglang Yang Tidak Dimanfaatkan Tapi Terus Di Renov, DPC AMIRA Pandeglang, Sepertinya Pemda Memakai Teori Kuda Mati

Banyak Aset Pemda Pandeglang Yang Tidak Dimanfaatkan Tapi Terus Di Renov, DPC AMIRA Pandeglang, Sepertinya Pemda Memakai Teori Kuda Mati

Independenupdate.com, Pandeglang, Banten | Dewan Pengurus Cabang Angkatan Muda Indonesia Raya (Amira) Kabupaten Pandeglang, Menyikapi terkait dengan Aset Pemda Pandeglang, yang dibangun tidak dimanfaatkan, tapi terus di anggarkan untuk renovasi, padahal jelas menghambur-hamburkan Uang Negara.

Rokhimat, Ketua DPC Amira Pandeglang menyampaikan Kepada Awak media bahwa di Kabupaten Pandeglang banyak sekali bangunan milik Pemda yang seharusnya menjadi nilai tambah bagi Daerah tapi malah membebani APBD, karena beberapa faktor, mungkin Perencanaan yang tidak matang atau mungkin dibangun hanya untuk mengambil anggaran saja.

Beberapa yang bisa kita lihat diantaranya, BIAT Cikoromony yang beberapa tahun tidak dimanfaatkan tapi kembali direnovasi, Pasar Agro Cikedal kalau tidak salah 2 kali di renovasi, Rumah Potong Hewan Labuan sudah dibangun kebali masih tidak di pakai, Rest Area Panimbang beberapa tahun tidak dipakai sekarang malah di rehab kembali, SIKM Porang Panimbang yang jelas semua orang tahu karena proyek strategis Presiden dan banyak lagi.

Lajut Rokhimat, kami melihat Pemda Pandeglang seperti memakai Teori Kuda Mati (Dead Horse Theory), Teori Kuda Mati adalah sebuah metafora satir yang menggambarkan bagaimana beberapa orang, lembaga, atau bahkan suatu bangsa menghadapi masalah yang sudah jelas, tetapi mereka justru bersikap seolah-olah masalah itu tidak ada atau tidak dipahami,  Alih-alih mengakui kenyataan, mereka justru mengabaikannya dan berusaha mencari pembenaran.

Inti dari teori ini sederhana, Jika kamu sadar bahwa kamu sedang menunggangi kuda yang sudah mati, solusi terbaik dan paling sederhana adalah turun dari kuda itu dan meninggalkannya.

Namun, dalam kenyataan, banyak orang, organisasi, atau bangsa yang justru mengambil langkah-langkah lain yang tidak masuk akal, seperti, 1) Membeli pelana baru untuk kuda mati tersebut. 2) Memberinya makan dengan harapan ia akan kembali hidup. 3) Mengganti penunggangnya dengan orang lain. 4) Memecat orang yang bertanggung jawab merawat kuda dan menggantinya dengan orang baru. 5) Mengadakan pertemuan untuk membahas strategi meningkatkan kecepatan kuda. 6) Membentuk tim dan komite khusus untuk meneliti kuda mati tersebut dari berbagai aspek. Mereka bekerja berbulan-bulan, menyusun laporan, dan akhirnya mengusulkan solusi, padahal sudah jelas sejak awal bahwa kudanya mati. 7) Setelah sekian lama, tim akhirnya mencapai kesimpulan yang sudah diketahui sejak awal: "Kuda ini memang mati." 8) Namun, karena sudah banyak tenaga, waktu, dan sumber daya yang terbuang, mereka tetap enggan mengakui kenyataan. Untuk mencari pembenaran, mereka mulai membandingkan kuda mereka dengan kuda mati lainnya dan berargumen bahwa kuda ini tidak benar-benar mati, hanya kurang latihan dan perlu pelatihan khusus. 9) Lalu, mereka mengajukan anggaran tambahan untuk "melatih" kuda mati tersebut. 10) Pada akhirnya, mereka mengubah definisi kata "mati" agar dapat meyakinkan diri sendiri bahwa kuda itu masih hidup.

Jadi bukanya mengakui bahwa itu salah tapi terus di tutupi yang pada akhirnya makin besar masalahnya, kalau Pemda Pandeglang memang serius ingin menghidupkan Bangunan Aset Pemda dan nantinya menjadi nilai tambah untuk daerah, apa salahnya latih dan ambil masyarakat Pandeglang untuk menjadi pengelola, kalau mau gandeng Perguruan tinggi di Pandeglang, tutupnya. (Ira/Red)